Budidaya Tanaman Hotong
Hotong (Setaria italica (L) Beauv.) adalah sejenis tanaman pangan yang
dimanfaatkan masyarakat Pulau Buru Selatan, Maluku. Tanaman hotong
merupakan sejenis padi, lebih mirip alang-alang, yang tumbuh di dataran
rendah sampai dengan dataran tinggi pada semua jenis lahan. Tanaman
hotong merupakan tanaman pangan alternatif pengganti beras yang dapat
tumbuh dengan baik di lahan-lahan kering dan marjinal. Hingga kini,
tanaman tersebut ditanam dan dibudidayakan secara terbatas di Pulau Buru
Selatan (Maluku). Oleh karenanya, tanaman tersebut diberi nama buru
hotong.
Budidaya tanaman hotong tidak memerlukan pemeliharaan yang
intensif sebagaimana tanaman padi, sehingga memungkinkan untuk dapat
ditanam hampir di semua tempat. Tanaman hotong merupakan tanaman
semusim. Tanaman ini tumbuh dalam bentuk rumpun dengan tinggi 60-150 cm
(Dassanayake, 1994). Umur panen tanaman ini 75-90 hari setelah tanam,
tergantung jenis tanah dan lingkungan tempat budidayanya. Waktu
penanaman terbaik pada bulan Juli hingga pertengahan Agustus di daerah
beriklim tropis (Krishiworld, 2005). Menurut Dassanayake (1994),
jenis-jenis hotong yang banyak dibudidayakan adalah: Setaria italica (L)
Beauv., Setaria italica (Var.) Metzgeri, dan Setaria italica (Var.)
Stramiofructa.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi
tanaman buru hotong di antaranya adalah tanah, varietas tanaman, iklim,
dan tindakan budidaya. Setiap tanaman menghendaki kondisi tanah yang
berbeda-beda sebagai tempat hidup yang optimum. Pada budidaya tanaman
graminae maka pengolahan tanah yang intensif dengan pencacahan tanah
akan sangat menguntungkan dari segi kemampuan perkembangan akar dan
penghambatan pertumbuhan gulma. Tanaman hotong tidak memerlukan tanah
khusus untuk tumbuh, namun perlu dilakukan perlakuan-perlakuan terhadap
jenis tanah tertentu.
Menurut Krishiworld (2005), tanaman hotong dapat tumbuh pada daerah
beriklim tropis maupun subtropis dengan curah hujan yang tidak terlalu
besar. Secara umum, tanaman hotong tumbuh baik pada lahan tadah hujan
sampai daerah kering kering, karena tanaman ini relatif sedikit
membutuhkan air. Krishiworld (2005) melaporkan bahwa di India, tanaman
ini dapat tumbuh dengan baik pada tanah alluvial, bahkan pada tanah
liat. Tanah dengan kadar lempung yang tinggi harus mendapatkan
pengolahan tanah yang baik agar dapat mendukung perakaran dan
meningkatkan perkolasi air tanah, karena tanaman hotong memerlukan
drainase yang baik. Tanaman hotong dapat tumbuh pada tanah yang kurang
subur, namun tanaman ini bereaksi positif terhadap fosfor (P) dan
nitrogen (N), sehingga tanah dengan kandungan fosfor dan nitrogen yang
cukup akan menghasilkan produksi yang lebih baik.
Batang tanaman hotong liat, semakin kering batang tanaman hotong setelah
dikeringkan akan semakin berkurang sifat liatnya. Malai sebenarnya
adalah lanjutan dari batang, hanya saja tumbuh cabang-cabang yang
semakin ujung posisinya semakin kompak. Cabang terdiri dari koloni kulit
ari yang berisi biji buru hotong. Panjang malai hotong rata-rata 15
dengan diameter 1.2 mm dan memiliki berat rata-rata 5.7 g per malai.
Biji hotong memiliki ukuran panjang 1.7 mm, lebar 1.3 mm, dan ketebalan
1.1 mm (Kharisun, 2003).
Usaha tani hotong sebenarnya bukan hal baru di kalangan masyarakat
setempat, sebab selama ini tanaman hotong telah dibudidayakan oleh para
petani untuk dijadikan tanaman sela. Proses pengolahan biji hotong
(kulitnya berwarna coklat tua) sampai tahap siap tanak (dimasak) tak
jauh berbeda dengan padi. Hanya saja, proses pengupasan kulitnya tidak
dapat menggunakan alat yang biasa dipakai untuk mengupas kulit padi
secara langsung, karena biji hotong lebih kecil dibanding padi.
Norma Wael, S.P

Tidak ada komentar:
Posting Komentar