Rabu, 18 Desember 2019

Budidaya Tanaman Hotong

Budidaya Tanaman Hotong Hotong (Setaria italica (L) Beauv.) adalah sejenis tanaman pangan yang dimanfaatkan masyarakat Pulau Buru Selatan, Maluku. Tanaman hotong merupakan sejenis padi, lebih mirip alang-alang, yang tumbuh di dataran rendah sampai dengan dataran tinggi pada semua jenis lahan. Tanaman hotong merupakan tanaman pangan alternatif pengganti beras yang dapat tumbuh dengan baik di lahan-lahan kering dan marjinal. Hingga kini, tanaman tersebut ditanam dan dibudidayakan secara terbatas di Pulau Buru Selatan (Maluku). Oleh karenanya, tanaman tersebut diberi nama buru hotong. 
 
Budidaya tanaman hotong tidak memerlukan pemeliharaan yang intensif sebagaimana tanaman padi, sehingga memungkinkan untuk dapat ditanam hampir di semua tempat. Tanaman hotong merupakan tanaman semusim. Tanaman ini tumbuh dalam bentuk rumpun dengan tinggi 60-150 cm (Dassanayake, 1994). Umur panen tanaman ini 75-90 hari setelah tanam, tergantung jenis tanah dan lingkungan tempat budidayanya. Waktu penanaman terbaik pada bulan Juli hingga pertengahan Agustus di daerah beriklim tropis (Krishiworld, 2005). Menurut Dassanayake (1994), jenis-jenis hotong yang banyak dibudidayakan adalah: Setaria italica (L) Beauv., Setaria italica (Var.) Metzgeri, dan Setaria italica (Var.) Stramiofructa. 
 
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman buru hotong di antaranya adalah tanah, varietas tanaman, iklim, dan tindakan budidaya. Setiap tanaman menghendaki kondisi tanah yang berbeda-beda sebagai tempat hidup yang optimum. Pada budidaya tanaman graminae maka pengolahan tanah yang intensif dengan pencacahan tanah akan sangat menguntungkan dari segi kemampuan perkembangan akar dan penghambatan pertumbuhan gulma. Tanaman hotong tidak memerlukan tanah khusus untuk tumbuh, namun perlu dilakukan perlakuan-perlakuan terhadap jenis tanah tertentu. Menurut Krishiworld (2005), tanaman hotong dapat tumbuh pada daerah beriklim tropis maupun subtropis dengan curah hujan yang tidak terlalu besar. Secara umum, tanaman hotong tumbuh baik pada lahan tadah hujan sampai daerah kering kering, karena tanaman ini relatif sedikit membutuhkan air. Krishiworld (2005) melaporkan bahwa di India, tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada tanah alluvial, bahkan pada tanah liat. Tanah dengan kadar lempung yang tinggi harus mendapatkan pengolahan tanah yang baik agar dapat mendukung perakaran dan meningkatkan perkolasi air tanah, karena tanaman hotong memerlukan drainase yang baik. Tanaman hotong dapat tumbuh pada tanah yang kurang subur, namun tanaman ini bereaksi positif terhadap fosfor (P) dan nitrogen (N), sehingga tanah dengan kandungan fosfor dan nitrogen yang cukup akan menghasilkan produksi yang lebih baik. Batang tanaman hotong liat, semakin kering batang tanaman hotong setelah dikeringkan akan semakin berkurang sifat liatnya. Malai sebenarnya adalah lanjutan dari batang, hanya saja tumbuh cabang-cabang yang semakin ujung posisinya semakin kompak. Cabang terdiri dari koloni kulit ari yang berisi biji buru hotong. Panjang malai hotong rata-rata 15 dengan diameter 1.2 mm dan memiliki berat rata-rata 5.7 g per malai. Biji hotong memiliki ukuran panjang 1.7 mm, lebar 1.3 mm, dan ketebalan 1.1 mm (Kharisun, 2003). Usaha tani hotong sebenarnya bukan hal baru di kalangan masyarakat setempat, sebab selama ini tanaman hotong telah dibudidayakan oleh para petani untuk dijadikan tanaman sela. Proses pengolahan biji hotong (kulitnya berwarna coklat tua) sampai tahap siap tanak (dimasak) tak jauh berbeda dengan padi. Hanya saja, proses pengupasan kulitnya tidak dapat menggunakan alat yang biasa dipakai untuk mengupas kulit padi secara langsung, karena biji hotong lebih kecil dibanding padi.

Norma Wael, S.P

Tidak ada komentar:

Posting Komentar